Advertisement

Walikota Balikpapan : Pasien Bergejala Meningkat, Sejumlah ICU Penuh

BALIKPAPAN - Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan tidak hentinya mengimbau kepada masyarakat untuk menegakkan protokol kesehatan dalam setiap aktivitas. Sebab, penambahan kasus Covid-19 harian mengalami lonjakan.

Pada hari ini (15/12), Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan melaporkan penambahan 63 kasus positif, 31 selesai isolasi, dan 1 kasus meninggal dunia. Angka penambahan kasus positif hari ini merupakan yang tertinggi sejak terakhir kali mencapai angka di atas 60 pada pertengahan September 2020.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Balikpapan mengatakan, dari 63 kasus hari ini terdapat satu klaster keluarga dengan yang terkonfirmasi positif hingga 11 orang.

"Selain itu ada 2 dokter dan 1 perawat, kemudian ada 7 guru yang terkonfirmasi positif. Guru tersebut di tingkat SD, SD IT, dan guru SMP," kata Rizal Effendi saat jumpa pers di sela peresmian Lab PCR Klinik Ibu dan Anak Juanson, Selasa (15/12).

Peningkatan kasus juga berasal dari pasien suspek atau dengan bergejala yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Rizal Effendi menambahkan dari total kapasitas 306 tempat tidur untuk pasien Covid-19 di 8 rumah sakit di Balikpapan sudah terisi 194.

"Jadi hampir dua per tiga kapasitas rumah sakit seluruh Balikpapan sudah diisi dengan pasien Covid-19. Kita harus waspadai lagi, karena beberapa ruang ICU sudah penuh," ujarnya.

Selain itu dari kasus tersebut, ia juga menyoroti klaster perusahaan atau perkantoran, mulai dari perusahaan bidang migas hingga perbankan, yang angka kasusnya tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Andi Sri Juliarty menambahkan, 7 guru yang terkonfirmasi positif tersebut merupakan hasil kelanjutan dari rapid test terhadap guru dalam rangka simulasi pembukaan sekolah 14-17 Desember.

"Sebelum mengumumkan kasus ini, kami telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Jadi untuk semua guru yang mendapatkan hasil reaktif, sejak hari itu juga langsung isolasi dan tidak diperkenankan mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka. Begitu pun yang hasil yang swab positif dilanjutkan isolasi lagi," ujarnya.

Rizal kembali menambahkan, dari penemuan kasus ini akan menjadi bahan pertimbangan pihaknya untuk mengevaluasi rencana dimulainya pembelajaran tatap muka pada 11 Januari 2021 mendatang. “Tentu akan ada evaluasi sekolah yang akan bisa kita buka atau tidak,” ungkapnya